Monday, January 18, 2016

Hujan

Rintik gemelitik merdu
Kala angin menerpa mengayun ranting juga daun
Jangkrik kecil bersorai kedinginan, menuntun rinainya air
Diatas kehangatan karpet sajadah
Seorang hamba bersujud dalam ramainya malam
Panjatkan syukur atas kabul do'anya pada Sang Ilahi
Di turunkanNya rizki walau malam menjelang

Tuesday, January 12, 2016

Kau

Tak pernah ku meminta kau tuk datang, tak pernah pula terfikir tuk inginkan hadirnya kau
Siapa kau?
.
Senja lalu ku hanya berbisik pada Tuhan, tuk disampaikanNya salam rinduku, tulus
Walau memang tak tertuju pada siapapun
Lalu, siapa kau?
.
AlurNya pun rumit, amat cepat ritmenya, hingga tak sanggup nalarku cerna
Siapa kau sebenarnya?
.
.
Kau
Sosok di depanku
Mengapa tersenyum padaku?
.
.
.
.
.
Kau masih di depanku, senyum kau pun tetap setia di sana
Namun uluku berdenyut seketika, peluku mulai berdesir
Ada apa?
.
Senyum kau kian merekah, seiring bergulirnya waktu
Tapi ku tetap terdiam, sibuk dengan apa yang ku rasa, ya semakin ngilu
Mengapa?
.
Setelahnya senyum kau mulai menguncup, menatapku bersalah
Tak kunjung ku balas senyum itu, tak tahu mengapa ku tak dapat, meski ingin rasanya
Bagaimana?
.
Senyum kau menghilang, tatapmu amat dalam, menusuk sukmaku
Seperti menggumamkan sesuatu, tapi ku tak mengerti
Ada apa sebenarnya?
.
Lambat laun sosok kau meredup, berbayang, hingga tak terlihat
Dan seketika ragaku begetar, lalu jiwaku lemas tak berdaya, menatap angin di depanku
Kemana kau?
.
.
Iya
Kau
Kemana perginya?
Siapakah sebenarnya?
Apa niat datang, jikalau hanya untuk pergi?
Ini begitu rumit untuk otak dangkalku